Pages

Sunday, September 27, 2009

Nepotisme & Premanisme Mantri Pasar Ciasem - Subang

Assalamu'alaikum

Saya kaget bercampur heran ketika seorang mantri pasar yang biasa datang memungut retribusi itu menyodorkan amplop kosong..
"Tolong diisi .."
"Untuk apa, pak..?"
"THR..!!"
"..???.."
Saya hanya terkesiap penuh tanya, apa gak salah para mantri pasar itu meminta THR ke kita. Bukannya selama ini kita yang menghidupi mereka dengan berbagai pungutan yang gak jelas payung hukum dan penggunaannya..??
Dan kekagetan saya kian bertambah ketika dia tahu dan menolak amplop yang saya isi dengan pecahan Rp 5000,-
_____________

Itu adalah sepenggal pengalaman saya menjelang lebaran. Menjadi orang kecil yang mencoba mencari penghidupan dari pasar tradisional Ciasem - Subang yang entah sampai kapan akan kuat bertahan ditengah himpitan semangat globalisasi yang hanya menguntungkan para kapitalis. Dan setelah saya tanya ke beberapa orang, ternyata kebiasaan itu sudah lama mereka lakukan. Kolusi sesama keluarga dalam mengeruk kekayaan pasar (dari kakek ampe cucu jadi mantri semua), jual beli lapak pedagang ditanah yang seharusnya jadi jalanan desa yang akhirnya berujung pada terganggunya mobilitas masyarakat setempat, dan bertindak layaknya preman pasar dalam memungut retribusi dan menentukan kebijakan.

Namun anehnya tidak ada tindakan pencegahan dari pihak terkait. Apakah begini hasil dari program reformasi yang selama ini digembor-gemborkan pemerintah khususnya pemerintahan kab. Subang ..?? Mengangkat orang-orang yang gak layak duduk dikursi pegawai yang seharusnya jadi pelayan publik, akan tetapi malah memberi tambahan beban buat masyarakat kecil dengan amplop THRnya..?? Atau mungkin ini adzab buat masyarakat kab. Subang dengan memberikan mereka para pemimpin yang buta dan tuli..??!! Wallahu a'lam

Wassalam

No comments:

Post a Comment