Dari taun ke taun.. Dari perayaan ke perayaan.. Kapan ya kira-kira bang5a indone5ia bi5a melewati bulan kemerdekaannya tanpa haru5 meminta-minta..?? Kapan ya..?? Kapan..?? Me5ti nanya ke 5iapa ya..??
Yang kebagian bertuga5 mengumpulkan dana 5udah malu karna 5ering mendapati 5ikap yang kurang 5impati.. Dan yang dimintai dana juga dah bo5en karna yang meminta 5umbangan bukan 5atu atau dua orang 5aja.. Terkadang ada yang memintanya 5edikit memak5a, pa5ang muka 5erem layaknya preman..
..hmh.. Coba kalo dana likuidita5 yang dikemplang para koruptor itu 5edikit 5aja dibagikan untuk merayakan tanggal yang ber5ejarah bagi bang5a ini.
Mungkin panjat pinangnya bi5a lebih 5eru, karna rakyat kecil kayak kita gak perlu 5u5ah dan gontok-gontokan dalam mencari lahan 5umber dana. Hadiahnya 5udah di5ediakan pemerintah melalui orang-orang be5ar yang 5elama ini menggerogoti keuangan negara, yang 5ampai 5ekarang penyele5aian ka5u5nya hanyut entah kemana.. Ada payung BLBI, kao5 kaki BLBI, radio tape BLBI, ampe BH & CD BLBI..!! 5eru khan..?? Tp kapan ya..????
..hmh..
Saturday, August 15, 2009
Wednesday, August 5, 2009
Dekadensi Moral & Motivasi Sang Ustadz/Kyai
To the point;
Ditempat saya ada orang yang sudah merasa pintar memainkan hukum-hukum agama dan fasih berbahasa arab pengen disebut/dipanggil ustadz/kyai, karena dia merasa sudah pantas dipanggil ustadz/kyai. Ditempat lain, dimana banyak berdiri pondok pesantren modern dan terkenal, ada orang yang sudah bergelar ustadz/kyai malah sibuk dengan menerjunkan diri ke dunia politik, karena dia merasa sudah cukup banyak pengikut. Dan yang lebih parah, baik disini ataupun ditempat lain, ada sebagian dari mereka yang lebih mementingkan praktek supranatural dari pada memberikan pencerahan-pencerahan agama.
Melihat fenomena dari orang-orang yang disebut ustadz/kyai saat ini, terkait erat dengan motivasi mereka selama ditempat pendidikan. Kita semua tahu bahwa Lembaga pendidikan kita (formal/nonformal) lebih mengedepankan skill/keterampilan dengan alasan klasik untuk menghadapi dunia kerja dari pada memberikan penekanan moral & motivasi. Akhirnya, lambat laun sesuatu yang mulia yang kita harap akan lahir dari fungsi dan kapabilitas para ustadz/kyai menjadi bias termakan benturan kebutuhan materi dan keadaan..
Ada cerita lain dari beberapa media yang saya kira masih terkait masalah ini dan cukup menarik untuk kita simak. Enam tahun ke belakang ada sekelompok ustadz/kyai (calon anggota legislatif) yang dengan keras menyorot masalah haji dan bobroknya birokrasi di Depag. Tapi setelah mereka terpilih pada pemilu 2004 dan duduk dikursi empuk gedung DPR, suara yang dulunya keras dan memerahkan telinga itu perlahan memudar dan terkesan menghilang. Sampai suatu saat ada kejadian yang memiriskan publik di tanah air. Para jemaah haji kita banyak yang terlantar dan kelaparan..!! Mereka tak lebih seperti gelandangan dinegeri orang.. Subhanallah..
Kalau sudah begini siapa yang harus dikambing hitamkan, Lembaga pendidikan, pemerintah, atau kita sendiri sebagai masyarakat umum..?? Kita semua dihadapkan pada situasi sulit. Ironisnya, gerakan perbaikan moral dan motivasi saat ini hanya menjadi tajuk pembicaraan kosong/pelengkap diacara-acara seremonial belaka.
Untuk yang terakhir saya ingin mengutip tulisan dari teman, bahwa 4 atau 5 tahun kedepan kita bakal melihat fenomena baru. Bakal ada sekelompok ustadz/kyai yang berdemo ke jalanan menyusul aksi para guru menuntut perbaikan ekonomi layaknya buruh pabrik..
..hmh.. Mungkinkah..??
Ditempat saya ada orang yang sudah merasa pintar memainkan hukum-hukum agama dan fasih berbahasa arab pengen disebut/dipanggil ustadz/kyai, karena dia merasa sudah pantas dipanggil ustadz/kyai. Ditempat lain, dimana banyak berdiri pondok pesantren modern dan terkenal, ada orang yang sudah bergelar ustadz/kyai malah sibuk dengan menerjunkan diri ke dunia politik, karena dia merasa sudah cukup banyak pengikut. Dan yang lebih parah, baik disini ataupun ditempat lain, ada sebagian dari mereka yang lebih mementingkan praktek supranatural dari pada memberikan pencerahan-pencerahan agama.
Melihat fenomena dari orang-orang yang disebut ustadz/kyai saat ini, terkait erat dengan motivasi mereka selama ditempat pendidikan. Kita semua tahu bahwa Lembaga pendidikan kita (formal/nonformal) lebih mengedepankan skill/keterampilan dengan alasan klasik untuk menghadapi dunia kerja dari pada memberikan penekanan moral & motivasi. Akhirnya, lambat laun sesuatu yang mulia yang kita harap akan lahir dari fungsi dan kapabilitas para ustadz/kyai menjadi bias termakan benturan kebutuhan materi dan keadaan..
Ada cerita lain dari beberapa media yang saya kira masih terkait masalah ini dan cukup menarik untuk kita simak. Enam tahun ke belakang ada sekelompok ustadz/kyai (calon anggota legislatif) yang dengan keras menyorot masalah haji dan bobroknya birokrasi di Depag. Tapi setelah mereka terpilih pada pemilu 2004 dan duduk dikursi empuk gedung DPR, suara yang dulunya keras dan memerahkan telinga itu perlahan memudar dan terkesan menghilang. Sampai suatu saat ada kejadian yang memiriskan publik di tanah air. Para jemaah haji kita banyak yang terlantar dan kelaparan..!! Mereka tak lebih seperti gelandangan dinegeri orang.. Subhanallah..
Kalau sudah begini siapa yang harus dikambing hitamkan, Lembaga pendidikan, pemerintah, atau kita sendiri sebagai masyarakat umum..?? Kita semua dihadapkan pada situasi sulit. Ironisnya, gerakan perbaikan moral dan motivasi saat ini hanya menjadi tajuk pembicaraan kosong/pelengkap diacara-acara seremonial belaka.
Untuk yang terakhir saya ingin mengutip tulisan dari teman, bahwa 4 atau 5 tahun kedepan kita bakal melihat fenomena baru. Bakal ada sekelompok ustadz/kyai yang berdemo ke jalanan menyusul aksi para guru menuntut perbaikan ekonomi layaknya buruh pabrik..
..hmh.. Mungkinkah..??
The Effort to Reducing the Epidemic's Smoking
Tobacco was discovered by Spanish
sailors on the American coast at about
1500 AD. Since its discovery, the
epidemic continued to spread smoke
throughout the world.
And at this
moment, the public has assumed that
smoking as a normal event. Of male
and female adults to teens. They've had
a great and happy with the tobacco. And
they did not know that smoking can
cause heart attacks, lung cancer and
even cause birth defects of children
born to women who smoked during
pregnancy. Minimal information from
the relevant authorities has caused this
problem.
The government must
continue to be active and intense to
explain that smoking is damaging
human health. And it can be done in
stages, with access televition ads or
radio. And the government must also
take effective rules about it.
More than
90% of the people republic of Indonesia is Muslim. Thus, by providing
some information about the dangers of
smoking and provide an understanding
of Islamic law it is possible to reduce
this epidemic. And schools are one
place and the best solution for this
launch ..
sailors on the American coast at about
1500 AD. Since its discovery, the
epidemic continued to spread smoke
throughout the world.
And at this
moment, the public has assumed that
smoking as a normal event. Of male
and female adults to teens. They've had
a great and happy with the tobacco. And
they did not know that smoking can
cause heart attacks, lung cancer and
even cause birth defects of children
born to women who smoked during
pregnancy. Minimal information from
the relevant authorities has caused this
problem.
The government must
continue to be active and intense to
explain that smoking is damaging
human health. And it can be done in
stages, with access televition ads or
radio. And the government must also
take effective rules about it.
More than
90% of the people republic of Indonesia is Muslim. Thus, by providing
some information about the dangers of
smoking and provide an understanding
of Islamic law it is possible to reduce
this epidemic. And schools are one
place and the best solution for this
launch ..
Saturday, August 1, 2009
Makna Kosong Perayaan 17 Agustus
Beberapa hari lagi kita akan memasuki tanggal bersejarah bagi bangsa ini, yakni tanggal 17 agustus. Dimana pada tanggal itu Sukarno dengan mengatas namakan bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya 64 tahun lalu. Dan tak terasa berarti sudah 64 kali kita merayakan acara seremonialnya, saya kira itu bukan waktu yang singkat. Dari pelosok negeri tempat berkembangnya para sparatis hingga kota-kota tempat pusat pemerintahan dan para koruptor, semua merayakannya dengan berbagai cara dan kemampuan. Bendera lambang kebangsaan berkibar diujung tiang yang terpancang disetiap rumah gubug hingga rumah mewah, dan dari kantor-kantor swasta hingga milik pemerintah.
Namun, dewasa ini perayaan 17 agustus menjadi perayaan yang terkesan samar dan kontroversial bagi negeri ini. Sebagian ada yang menganggap hanya sebagai ajang lomba belaka (masyarakat umum), ada juga yang hanya menganggap sebagai momen untuk mengeruk keuntungan (bagi para pengrajin bendera) dan sebagian lagi menganggap ini hanya sebagai musibah (bagi perusahaan atau perorangan yang harus mengeluarkan dana lebih untuk membeayai acara tahunan tersebut). Dan bagi saya pribadi, acara tersebut hanya sebagai ajang buang-buang waktu dan energi. Karena apa, karena memang dari dulu sampai saat ini dari perayaan tersebut tidak pernah terlihat hasilnya bagi pengembangan mental & moral bangsa. Yang bermental korup tetap akan terus mencari peluang (banyak contohnya), yang tertindas secara hukum tetap akan berurusan dengan pengadilan (kasus Prita), dan yang merasa diacuhkan pemerintah/negara tetap harus berjuang sendiri melawan tirani pengadilan negeri orang (kasus kematian David)
Lalu apa makna inti dari perayaan 17 agustus bagi bangsa ini. Apakah ada yang salah dari metode acara tahunan yang banyak menelan beaya itu. Atau memang kita sendiri yang terbuai lomba dan pesta cuap-cuap hingga tak mampu menghayati makna sebenarnya dari perayaan 17 agustus untuk dijadikan tonggak memperbaiki diri..??? Mari buka mata hati kita dan renungkan bersama. Jangan sampai ada kesan bahwa acara itu hanya perayaan seremonial belaka yang dari tahun ke tahun tak pernah mengedepankan perbaikan bagi bangsa ini..
Namun, dewasa ini perayaan 17 agustus menjadi perayaan yang terkesan samar dan kontroversial bagi negeri ini. Sebagian ada yang menganggap hanya sebagai ajang lomba belaka (masyarakat umum), ada juga yang hanya menganggap sebagai momen untuk mengeruk keuntungan (bagi para pengrajin bendera) dan sebagian lagi menganggap ini hanya sebagai musibah (bagi perusahaan atau perorangan yang harus mengeluarkan dana lebih untuk membeayai acara tahunan tersebut). Dan bagi saya pribadi, acara tersebut hanya sebagai ajang buang-buang waktu dan energi. Karena apa, karena memang dari dulu sampai saat ini dari perayaan tersebut tidak pernah terlihat hasilnya bagi pengembangan mental & moral bangsa. Yang bermental korup tetap akan terus mencari peluang (banyak contohnya), yang tertindas secara hukum tetap akan berurusan dengan pengadilan (kasus Prita), dan yang merasa diacuhkan pemerintah/negara tetap harus berjuang sendiri melawan tirani pengadilan negeri orang (kasus kematian David)
Lalu apa makna inti dari perayaan 17 agustus bagi bangsa ini. Apakah ada yang salah dari metode acara tahunan yang banyak menelan beaya itu. Atau memang kita sendiri yang terbuai lomba dan pesta cuap-cuap hingga tak mampu menghayati makna sebenarnya dari perayaan 17 agustus untuk dijadikan tonggak memperbaiki diri..??? Mari buka mata hati kita dan renungkan bersama. Jangan sampai ada kesan bahwa acara itu hanya perayaan seremonial belaka yang dari tahun ke tahun tak pernah mengedepankan perbaikan bagi bangsa ini..
Subscribe to:
Comments (Atom)